Konten

MENDIAKNOSA PENYAKIT DALAM TUBUH PERKOPERASIAN


MENDIAKNOSA PENYAKIT DALAM TUBUH PERKOPERASIAN

Oleh: Sekretariat Program

 

Pada akhir tahun 2015 KPRI mutiara melaksanakan rapat Kerja RK-RAPB Tahun 2016. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya dimana rapat Kerja RK-RAPB biasanya disatukan dengan Rapat Anggota Tahun ( RAT ). Rapat dipimpin langsung oleh ketua pengurus Koperasi Mutiara Bapak Moh. Tholkah Arif, M.Si, yang kebetulan sebagai Ketua Dewan pengurus KORPRI dan juga hadir pula Kepala Dinas Koperasi dan UMK selaku  pembina serta Bapak Djauhari perwakilan dari PKPRI.  Rapan berjalan dengan aspiratif sesuai dengan tahapan hingga pada sesi tanya jawab aspiratif, Pada momen tersebut banyak pertanyaan yang mengkritisi kinerja koperasi mutiara hingga salah satu anggota memberikan tanggapannya dengan mengilustrasikan bahwa dalam tubuh perkoperasian ada penyakit yang tidak disadari oleh pasien. Keanehan tersebut berangkat dari definisi koperasi yang jauh dari kenyataan, dimana koperasi mempunyai artinya bekerjasama untuk mencapai tujuan memperbaiki nasib kehidupan ekonomi yang didasari asas gotong royong dan didasari atas kerjasama para anggotanya, sehingga mampu membuat rasa saling mempercayai kepada diri sendiri dalam ikatan persaudaraan koperasi. Hal tersebut yang sesungguhnya tidak nampak, yang muncul adalah dominasi pengurus atas anggota dengan tunjangan tiap bulan yang nilainya tidak kecil, sedangkan anggotanya terasa nuansanya tidak mau tahu dan peduli . Apakah model koperasi seperti ini sebagai soko guru perekonomian dan kenyataannya koperasi banyak yang jadi sambilan/sampingan oleh anggotanya.

Penulis ingin menyatakan bahwa koperasi itu unik dan kabur /tidak ada sekat yang jelas antara kepentingan materi dan sosial , akan tetapi menjadi di legalkan terbukti ada kelembagaannya permanen “ Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah”. Di negara-negara lain pengembangan model koperasi ini tidak banyak mendapatkan suport dan perhatian khusus. terkecuali  model perseroan konfensional lainnya seperti perseroan saham. Perseroan saham yang semula bersifat produktif dengan menawarkan barang/jasa, era sekarang mulai bergeser pada sistem perekonomian non riel dalam bentuk jual beli saham. Perusahaan-perusahaan besar banyak bermain di bursa saham ini.  

Bagi penulis bukan sisi kepentingan materi dan sisi sosial yang dipertentangkan akan tetapi bisakah itu bekerja dengan dua sisi yang jelas, mengingat secara historis koperasi dibangun untuk menjawab sistem perekonomian kapitalis yang didominasi dan dimonopoli tuan tanah dan pemilik modal besar saat itu. Para kapitalis ini menguasai perekonomian yang menciptakan kelas masyarakat borjuis dan proletar (masyarakat kelas kedua).  Kondisi ini memicu reaksi solidaritas, kebersamaan dan senasib. Masyarakat kelas kedua kemudian bekerjasama menyatukan kelebihan dan menutupi kelemahan selanjutnya membangun kerjasama ekonomi (perseroan) yang bernuansa sosialis.  Dari sini kemudian lahir model bisnis yang menggabungkan kepentingan materi dan sosial (embrio koperasi) . Inilah yang menjadi asas lahirnya Koperasi. Kepentingan anggota model koperasi untuk mendapatkan keuntungan materi dicampuradukkan dengan motivasi sosial yang non profit oriented.  Pada akhirnya antara profit oriented vs human oriented saling mendominasi dan menutupi.   Pada titik ini menimbulkan dilema paradigma di tubuh sistem koperasi yang belum terselesaikan hingga kini. Lebih mengutamakan profit oriented atau human orinted ?.  Sederhananya mungkin akan menjawab dua-duanya. Dalam kenyataan, keduanya tidak bisa berjalan pada objek perbuatan dengan waktu bersamaan. Dimana perbuatan / aktivitas tidak akan memiliki lebih dari satu nilai / mutivasi. Pasti salah satu mendominasi bahkan menggantikan nilai yang lainnya. Sebagai gambaran nilai perbuatan seseorang itu meliputi, nilai spiritual (qimah ruhiyyah), nilai materi (qimah maddiyyah) dan nilai kemanusiaan/moral (qimah insaniyyah).  Pada saat seeseorang berbuat untuk mengharapkan pahala, maka pada saat yang sama dia akan mengenyampingkan nilai yang lain, artinya dia tidak terlalu memperhatikan apakah perbuatannya menghabiskan biaya banyak atau mendapatkan simpati dari masyarakat. Demikian sebaliknya, saat seseorang bekerja dengan harapan keuntungan, maka langkah-langkah yang ditempuh mengarah pada perbuatan yang memungkinkan untuk mendapatkan keuntungan bukan mengarah pada nilai spiritual dan kemanusiaan.  Contoh ketika seseorang melaksanakan bisnis, dia berharap  keuntungan (qimah maddiyyah) dengan langkah dan strategi yang ditempuh mengarah pada kemungkinan mendapatkan keuntungan, maka dia akan mengenyampingkan langkah dan strategi untuk  mendapatkan penghargaan/pengakuan dari manusia (qimah insaniyyah). Berupaya mencampuradukkan beberapa nilai akan menjadikan perbuatan disorientasi, kabur, tidak fokus dan tidak maksimal. INI YANG DIMAKSUD MENGAPA KOPERASI SULIT BERKEMBANG.

Mengembangkan koperasi di era MEA menuntut adanya profesionalisme asas, profesionalisme sistem dan profesionalisme tujuan.   Profesonalisme asas berarti, koperasi harus mendasarkan aktivitasnya pada asas mendasar segala aktivitas yang dilakukan manusia.  Sebagai khalifah fil ardi, manusia harus menjadikan perbuatan termasuk bisnis yang dikembangkan sesuai dengan ketentuan al khaliq  Allah Al mudabbir (Yang Maha Mengatur). Dengan demikian koperasi tidak akan berbisnis sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT seperti; bisnis ribawi (saya akan pinjamkan uang sejumlah tertentu dengan bunga sekian persen, atau saya akan pinjamkan uang kemudian saya mendapat bagian perbulan/minggu sejumlah uang tertentu diminta atau tidak diminta, tidak peduli uang yang saya pinjamkan dibisniskan atau tidak yang penting uang harus kembali utuh dan tidak menanggung kerugian), menipu, barang haram,  bisnis aqad batil, bisnis bukan barang/jasa tetapi janji dengan gambling/judi/untung-untungan (contoh aqanya; saya berjanji akan mengganti kerusakan, kehilangan, biaya pengobatan anda apabila anda mendaftar dan membayar sejumlah premi/iuran).  Profesionalisme sistem berarti, koperasi harus memiliki jiwa intrepreneurship (kepekaan membaca peluang bisnis dan mengembangkannya).  Simpan pinjam bukan bisnis tetapi kegiatan tolong menolong (ta’awun), nilai spiritual yang diharapkan bukan materi.  Koperasi tidak layak mengembangkan sistem simpan pinjam dalam berbisnis tetapi simpan pinjam diarahkan pada aktivitas menolong/gotong royong semata tanpa mengharap imbalan materi dari orang lain termasuk anggota koperasi.  Sistem bisnis yang juga tidak profesional adalah bisnis ribawi, dimana satu pihak ada kemungkinan untung dan ada kemungkinan rugi, tetapi pihak peminjam hanya akan mendapatkan keuntungan tanpa turut menanggung kerugian.  Ini bisnis yang tidak adil, tidak profesional tentu tidak berkah.  Profesionalisme sistem dilakukan apabila bisnis yang dipertukarkan adalah barang / jasa bukan janji sebagaimana dalam sistem asuransi.  Bisnis non riel juga hakekatnya bisnis semu karena tidak ada penambahan barang/jasa yang menambah nilai manfaat, tetapi hanya perpindahan surat-surat penting saja.

 Koperasi sebaiknya mengembangkan bisnis ekonomi riel (produksi barang/jasa).  Terbukti bisnis riel ini mampu bertahan dari krisis moneter. Pasar bebas/global lebih mengarah pada persaingan keunggulan produk/jasa yang ditawarkan.  Dalam menghadapi pasar MEA koperasi harus berbenah untuk mengembangkan bisnis produksi barang/jasa berdaya saing tinggi (good practices).  Profesionalisme Tujuan artinya, koperasi harus memiliki tujuan bisnis yang jelas dan terukur.   Tujuan ini dipahami dan diharapkan oleh masing-masing anggota.  Dengan demikian progres bisnis dipahami bersama oleh anggota sehingga dapat dikembangkan atau tidak.  Demikian pula perseroan koperasi harus memiliki batas waktu perseroan tidak berlaku abadi tanpa batas yang jelas.  Namun perseroan bisa dilanjutkan apabila dikehendaki oleh para perseronya.  Koperasi adalah perseroan bisnis bukan sosial, oleh karena itu istilah-istilah yang mengkaburkan orientasi di dalam koperasi sebaiknya diganti seperti; istilah simpanan wajib/pokok menjadi investasi anggota.  SHU (Sisa Hasil Usaha) dengan laba, istilah sisa tidak menegaskan nilai profit.  Koperasi bertujuan membentuk perseroan bisnis (syirkah) bukan lembaga sosial atau lembaga keagamaan.

Apabila koperasi telah memiliki tiga profesionalisme; profesionalisme asas, profesionalisme sistem dan profesionalisme tujuan, maka koperasi mampu bersaing menghadapi pasar global MEA.  Siapkah melakukan reformasi koperasi?...